Korupsi sebagai kejahatan?

Pada hari sabtu 25 Juni 2011, kebetulan saya dapat undangan wisuda Program Profesi Akuntansi (PPAK) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (PPAK FEB UGM), dalam wisuda tersebut terasa sangat special karena mengundang pembicara dari KPK dan yang hadir adalah wakil Ketua KPK Irjen Polisi Bibit Samad Rianto. Dalam kesempatan ini saya mencoba ingin berbagi ilmu terkait apa yang telah disampaikan Pak Bibit pada kesempatan tersebut, diantaranya:
“Dalam fungsi manajerial korupsi dianggap sebagai miss management sehingga kasus-kasus korupsi tersebut dianggap salah pengelolaan sehingga tindakan-tindakan administrasi tidak akan menjeratkan pelakunya. seyogyanya korupsi dianggap sebagai kejahatan dan hal perlu mendapat perhatian khusus. Perhatian ini tidak ada hanya di indonesia tetapi di tingkat dunia hal ini ditunjukkan dengan adanya pembentukan konvensi anti korupsi tingkat dunia oleh PBB yang telah disepakati oleh Indonesia dan negara-negara lain”.
Komentarku: Peran Auditor agar tidak terjebak dalam istilah yang disampaikan diatas, tentu saja ketika kita menemukan adanya fraud tentu harus dilakukan investigasi sehingga ada pembuktian bahwa fraud apakah memang terjadi atau tidak dan bukan sekedar adanya miss management, dalam istilah akuntansi kita akan mengenal apakah kesalahan itu error atau fraud?.
“Ukuran tingkat korupsi secara internasional menggunakan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang dilakukan oleh Transparancy Internasional (TI) , Indonesia sejak tahun 1999 mulai meningkat meskipun tidak signifikan dan karena IPK masih dibawah angka 3 maka Negara kita masih terpersepsikan sebagai negara terkorup.
Berikut trend dari tahun 1000 s.d. 2009
1999 – 2003 IPK 1,9 s.d. 2,8.
2004 IPK 2.0
2005 IPK 2,2
2006 IPK 2,4
2009 IPK 2,8”
Komentarku : Terus kapan Negara ini bebas dari korupsi, maka jawabannya adalah mari dimulai dari kita sendiri, dan jika kita berada pada level top managemen maka manfaatkan waktu untuk menciptakan good corporate, di posisi inilah kita dapat merubah untuk lebih baik. Kenapa banyak Walikota, Bupati dan Gubernur ditangkap oleh KPK karena selama ini sistem yang berjalan adalah : no money no vote, tidak ada duit tidak ada suara, terus siapa yang harus disalahkan?, yang salah adalah sistemnya!

“Potensi penyebab Korupsi:
1. Sistem Hukum, Sistem Politik, apakah sistem hukum dan politik sudah sesuai dengan harapan?
2. Integritas Moral, bagaimana integritas para pegawai auditor, akuntan dll?
3. Renumerisasi yang rasional, apakah sistem gaji sudah Rasional?
4. Pengawasan, apakah pengawasan yang dilakukan sudah efektif?”

Komentarku: pertanyaan diatas, kapan bisa terjawab “SUDAH”? mungkin kita harus menunggu pemimpin yang tegas dan benar-benar KATAKAN TIDAK UNTUK TIDAK KORUPSI (maaf bukan sekedar hanya iklan lho!). Benarkah kejujuran itu ada disekolah, padahal sekolah itu seperti buku kecil. Anak-anak di didik oleh guru untuk jujur tetapi setelah keluar dari Sekolah terpengaruh dengan lingkungan masyakarat yang ada dan ilmu yang diajarkan oleh sang guru pun malah hilang. Australia jelas tidak punya pancasila tetapi mereka justeru menerapkan dalam keseharian, karena dalam keseharian langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, di negeri kita semua hanya diajarkan lewat omongan saja tetapi tidak dilatihkan pada kehidupan keseharian atau tidak dihayati.

Mari Kita pahami apa itu Fraud?
fraud dapat terjadi dalam berbagai bentuk, menurut ACFE ada beberapa hal yang bisa dikelompokkan kedalam fraud:
1. asset missapropriation
Dinataranya penyalahgunaan/pencurian aset atau harta Negara, Perusahaan, lembaga atau pihak lain.
2. Fraudulent statement
Dalam kategori ini adalah tindakan yang dilakukan oleh pejabat untuk merekayasa laporan keuangan untuk memperoleh keuntungan /menutupi hal sebenarnya.
3. Corruption : contohnya adalah suap, komisi ilegal dan lain sebagainya.

Kenapa Fraud muncul? Pada beberapa buku tentang investigasi fraud disebitkan bahwa umumnya Kita akan mengenal the Fraud Triangle, yaitu:
1. Tekanan
sesuatu yang terjadi dalam lingkungan pribadi pelaku fraud yang menimbulkan stress dalam hal kebutuhan akan dana, dan memotivasi mereka untuk mencuri. seseorang melakukan fraud (penipuan) untuk mempertinggi egonya, impiannya, atau asumsi yang salah mengenai suatu status.

2. Kesempatan
Pelaku fraud selalu mempunyai pengetahuan dan kesempatan untuk melakukan fraud.
faktor utama dalam kesempatan ini adalah pengendalian internal. Kelemahan atau tidak adanya pengendalian internal memberikan kesempatan bagi pelaku fraud untuk melakukan kejahatannya.

3. Rasionalisasi
Pelaku secara sederhana membenarkan kejahatan mereka berdasarkan keadaan mereka.
Singkatnya, dari sisi obyektif hal tersebut dikatakan pencurian, tapi mereka berfikir bahwa akan mengembalikannya (“kami hanya meminjam uang”).

Semoga tercerahkan untuk kita dan senantiasa terjaga agar kita tidak ada dalam lingkaran korupsi, ibarat sekali korupsi, maka 2,3,4 …1000 langkah tetap saja korupsi! Wallahu a’lam

Tinggalkan komentar

Filed under Korupsi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s