Katakan benar meskipun itu pahit

Sebagai bagian dari kewajiban pekerjaan kita apapun profesi kita senantiasa tetap amanah, jujur dan benar. misalnya jika kita adalah seorang auditor tentu kita dapat meniatkan agar pekerjaan yang kita lakukan juga mendapatkan pahala misalnya kita berniat amar ma’ruf nahi munkar agar lingkungan kerja dan lain sebagainya tetap tercipta good governance sesuai dengan kondisi yang ada dimasing-masing perusahaan, BUMN, instansi, Perguruan Tinggi dan lain sebagainya.  seorang auditor diminta untuk memastikan apakah fraud atau korupsi yang menjadi penyakit kronis para birokrat, para pengusaha, mulai dari atas sampai bawah dapat dicegah? atau mengambil istilah orang barat “tone of the top”, jika tone of the top (pimpinan) korup bisa jadi anak buahnya lebih korup dari atasannya. sebenarnya dalam agama yang kita anut mengenal istilah “suri tauladan”. sehingga para profesi auditor hendaknya senantiasa meluruskan niat agar apa yang kita sampaikan adalah yang benar dan jujur sehingga hal ini juga menular ke profesi yang lain misal hakim, polisi, jaksa dan profesinya lainnya. dan jika kita dapat membebaskan yang tertindas dan membela yang benar maka negeri ini benar-benar menjadi Baldatun Toyybatun Warabbun Ghofur. Ada hadist yang perlu qta dalami sebagai berikut:  Dari Abu Dzarr RA, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah SAW mewashiyatkan kepadaku dengan beberapa kebaikan. Beliau mewashiyatkan kepadaku agar tidak melihat kepada orang yang diatasku dan supaya aku melihat kepada orang yang di bawahku. Beliau mewashiyatkan kepadaku supaya mencintai orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah. Beliau mewashiyatkan kepadaku agar aku menyambung hubungan sanak saudaraku meskipun mereka berpaling. Beliau mewashiyatkan kepadaku supaya karena Allah aku tidak takut celaan orang yang mencela. Beliau mewashiyatkan kepadaku supaya aku mengatakan yang benar meskipun pahit (akibatnya). Dan beliau mewashiyatkan kepadaku supaya memperbanyak ucapan “Laa haula walaa quwwata illa billaah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah), karena ucapan itu merupakan simpanan dari simpanan-simpanan surga”. [HR. Thabrani dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya dan lafadh ini baginya, dalam Targhib wat Tarhib 3: 337]

Tinggalkan komentar

Filed under informasi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s